BAB II
ISI
2.1 Pengertian Pengucilan
Terdapat fakta unik tentang pengucilan yang terjadi di lingkungan sekolah, yakni ternyata masih banyak remaja yang tidak memahami pengertian dan dampak pengucilan. Akhirnya, terdapat suatu fenomena dimana banyak remaja tidak menyadari apabila dirinya sedang menjadi pelaku, atau bahkan korban pengucilan. Ironis memang.
Papalia, et. al. (2004) mendefinisikan pengucilan sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri.
Sedangkan, dalam konteks lingkungan sekolah, kita dapat merujuk pada definisi yang diberikan oleh Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005). Mereka mengartikan pengucilan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok remaja yang memiliki kekuasaan, terhadap remaja lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pengucilan
Pengucilan kerap kali terjadi kepada remaja, khususnya di sekolah. Terjadinya pengucilan disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut yang merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pengucilan, yaitu:
1. Faktor Fisik
Setiap manusia diciptakan Allah dengan keadaan fisik yang berbeda-beda. Perbedaan fisik tersebut seperti ada yang berkulit hitam, ada juga yang berkulit putih. Ada juga yang berambut lurus, ada juga yang berambut keriting. Apa pun keadaannya, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Masalahnya, perbedaan yang ada terkadang dijadikan remaja-remaja sebagai alasan untuk menjauhi teman. Perbedaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan karena dianggap aneh, tak jarang membuat remaja merasa kurang nyaman berdekatan dengan remaja yang berbeda itu. Misalnya, seorang remaja yang mempunyai rambut kribo dijauhi temannya karena dianggap rambutnya itu adalah sarang kutu. Tentu saja hal itu sangat tidak menyenangkan.
2. Faktor Kepribadian
Sama halnya dengan fisik, sifat manusia juga berbeda-beda. Ada yang berperangai lembut, ada juga yang berperangai kasar. Ada yang pintar, ada juga yang kurang pintar.
Perbedaan sifat pun, juga menjadi alasan beberapa remaja untuk menjauhi temannya. Misalnya, seorang remaja yang kurang pintar diejek dan di tertawakan remaja lain karena tidak dapat menjawab soal yang ditanyakan guru.
3. Faktor Kelas Minoritas
Beberapa remaja yang dikucilkan oleh remaja lain di sekolahnya karena remaja tersebut duduk di kelas akselarasi (percepatan), yang merupakan kelas minoritas. Hal itu disebabkan karena jumlah siswa di kelas akselarasi sangat sedikit dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya.
4. Faktor Ekonomi dan Faktor Sosial
Faktor ekonomi dan faktor sosial juga menjadi alasan remaja untuk menjauhi temannya. Perbedaan remaja yang kaya dan remaja yang miskin menjadi kemungkinan untuk terjadinya pengucilan. Misalnya, salah seorang remaja yang tidak berkecukupan dikucilkan oleh remaja lain.
5. Faktor Orang Tua
Pengucilan bisa terjadi apabila orang tua di rumah mempunyai hobi memaki atau melakukan kekerasan fisik. Akibatnya, remaja menjadi terbiasa disuguhi adegan kekerasan, sehingga ia akan menganggap tindakan kekerasan sebagai hal biasa. Akibat lainnya, remaja bisa menjadi individu yang merasa rendah diri atau pemarah. Di sekolah, remaja bisa menjadi seorang yang mengucilkan atau sebaliknya menjadi yang dikucilkan.
Pengucilan bisa juga terjadi karena remaja sangat dimanja di rumah, sehingga semua orang harus tunduk kepadanya. Ketika di sekolah, ia menganggap semua remaja (teman-temannya) pun harus tunduk.
6. Faktor Media
Media yang banyak menayangkan tontonan kekerasan juga bisa menjadi pemicu anak untuk mengucilkan remaja lain. Tayangan- tayangan kekerasan secara langsung maupun tak langsung memengaruhi persepsi remaja, sehingga mereka meniru tindakan tersebut.
7. Faktor Teman Dekat (Remaja Lain)
Faktor teman-teman juga bisa menjadi pemicu seorang remaja untuk mengucilkan atau dikucilkan. Contohnya, remaja hanya ikut-ikutan saja ketika teman dekatnya mengejek remaja lain. Jika tak ikut “meramaikan”, remaja tersebut takut dimusuhi oleh teman dekatnya.
2.3 Dampak Negatif dari Pengucilan Terhadap Remaja
Pengucilan tidak menghasilkan dampak positif, melainkan dampak negatif. Adapun dampak negatif dari pengucilan adalah sebagai berikut:
1. Mempengaruhi Perkembangan Mental Remaja
Tidak terjalinnya komunikasi antara seorang remaja dengan remaja lainnya, membuat remaja tersebut merasa kesepian. Remaja pun merasa tidak bahagia, tidak nyaman, dan tertekan. Remaja tersebut akan merasa tidak dibutuhkan, dan tidak memiliki teman. Alhasil, remaja tersebut sangat tidak menyukai orang lain, tidak percaya pada orang lain, menilai perilaku orang lain secara negatif, bahkan membenci orang-orang disekitarnya.
Hal ini akan berlanjut dengan dihinggapinya rasa malu, takut dan tidak percaya diri (PD). Sifat remaja pun bisa menjadi pesimis, kurang inisiatif, dan selalu serba tergantung.
2. Kesehatan Memburuk
Pengucilan terhadap remaja juga dapat menganggu kesehatan. Hal ini disebabkan karena remaja menjadi sering mengurung diri dikamar, tidak nafsu makan, dan susah tidur. Remaja biasanya sakit kepala, flu, batuk, dan bibir pecah-pecah. Terkadang, pengucilan bisa berbentuk perilaku agresif yang memungkinkan remaja mengalami luka-luka pada fisiknya.
3. Prestasi Menurun
Pengucilan sering terjadi di sekolah, karena di sekolahlah remaja selalu berinteraksi. Akibatnya, remaja menjadi membenci lingkungan sekolahnya, enggan ke sekolah sehingga sering membolos. Remaja pun juga sering tidak berkosentrasi saat belajar sehingga prestasinya menurun.
4. Trauma
Masa remaja yang tidak bahagia berpotensi memicu trauma dan dapat mengganggu kesehatan mental saat dewasa. Remaja yang dikucilkan akan tidak bahagia dan beresiko menderita kelainan jiwa.
5. Terhambatnya Aktualisasi Diri
Seorang psikolog terkemuka bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dari mulai yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Hirarki kebutuhan tersebut dijabarkan Maslow sebagai berikut :

Dari gambar tersebut, Maslow ingin menjelaskan bahwa seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila orang tersebut telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik.
Seorang siswa yang menjadi korban pengucilan dapat mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, selalu merasa ketakutan dan tidak aman, bahkan merasa bahwa dirinya tidak lagi mempunyai harga diri. Dalam kaitannya dengan Teori Maslow, kondisi-kondisi tadi dapat menghambat dirinya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam diri.
2.4 Cara mengatasi Pengucilan Terhadap Remaja
Setelah penulis memaparkan tentang pengucilan, jelas tidak ada manfaat sedikitpun dari pengucilan. Berikut adalah cara mengatasi pengucilan, yaitu:
1. Bagi Remaja itu Sendiri
a. Merenungi Diri
Remaja tersebut dianjurkan merenungi diri apabila ia pernah berbuat salah atau menyakiti remaja lain. Jika memang ada kesalahan, segeralah meminta maaf dan memperbaiki diri agar dapat diterima kembali dalam pergaulan.
b. Sabar
Setelah memperbaiki diri dan meminta maaf ternyata masih belum bisa diterima remaja lain, berarti masih dibutuhkannya waktu untuk membuktikan bahwa remaja tersebut sudah berusaha untuk memperbaiki diri. Kuncinya adalah sabar.
c. Mencari Bantuan
Remaja tersebut dapat berbicara kepada guru dan orangtua. Guru dapat mencairkan suasana pergaulan di sekolah, sedangkan orangtua dapat bekerja sama dengan pihak sekolah dan para orang tua remaja lainnya, agar pergaulan remaja di sekolah tidak ada pengucilan.
d. Mencari Teman Lain
Apabila remaja lain belum bisa menerima remaja tersebut dengan sepenuh hati, mungkin memang remaja lain tidak cocok dengan remaja tersebut. Maka, remaja tersebut dianjurkan untuk mencari teman lain yang lebih cocok dan bisa menerima kelebihan dan kekurangan remaja tersebut. Remaja itu pun tidak perlu memaksakan diri untuk bergaul dan akrab dengan remaja lain. Pergaulan di sekolah pun terasa lebih menyenangkan
2. Bagi Remaja Lain
a. Tidak Menjadi Seorang “Pelaku”
Tidak mengucilkan seorang remaja merupakan cara termudah mengatasi pengucilan terhadap remaja lain. Rasa empati remaja perlu ditingkatkan. Remaja harus mencoba untuk merasakan emosi yang mungkin dirasakan oleh seorang remaja yang dikucilkan, dan kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang dikucilkan. Jelas tidak menyenangkan, bukan?
b. Menyebarkan Informasi Mengenai Pengucilan
Peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari pengucilan kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk.
3. Bagi Guru
a. Menjalin komunikasi yang efektif dengan remaja
b. Mengenali potensi-potensi yang dimiliki remaja
c. Memberikan kebebasan kepada remaja untuk berkreasi
d. Guru menghargai siswa sesuai dengan talenta yang dimiliki siswa.
e. Guru dapat bekerjasama dengan orang tua siswa untuk menanggulangi pengucilan atau mendeteksi dini pengucilan di sekolah.
4. Bagi Orang Tua
a. Menyarankan anak untuk menghindar dari remaja yang mengucilkan atau bermain dalam kelompok (biasanya remaja yang mengucilkan segan menghadapi beberapa anak sekaligus).
b. Bekerjasama dengan guru untuk menanggulangi pengucilan
c. Meluangkan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan anak di rumah
2.5 Tokoh Masyarakat yang dikucilkan oleh Remaja Lain saat Masa Remaja
1. Abraham Lincoln
Abraham Lincoln lahir pada tanggal 12 Februari 1809 di sebuah rumah yang hanya memiliki satu ruangan. Ayahnya seorang petani miskin dan karena tidak mempunyai biaya, Abraham Lincoln hanya bersekolah selama 18 bulan saja. Namun, karena semangat belajarnya sangat tinggi, Abraham Lincoln tidak putus asa meskipun harus putus sekolah. Ia rajin belajar sendiri dengan membaca ratusan buku yang ada di perpustakaan desanya.
Semasa remaja, Abraham Lincoln juga dikucilkan teman-temannya hanya karena memiliki bentuk fisik yang “aneh”. Tubuhnya sangat jangkung dan kurus. Wajahnya tergolong buruk rupa karena tidak simetris. Tahi lalat besar di wajahnya pun semakin membuat tampangnya terlihat “aneh”. Bahkan, ketika dewasa, lawan-lawan politik Abraham Lincoln sering menyudutkannya dengan perkataan kasar mengenai wajah dan bentuk fisiknya itu.
Meskipun demikian, Abraham Lincoln terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil mempersatukan perang saudara dan menghapus perbudakan di Amerika. Kini, untuk mengenang jasanya, relief wajahnya dipahat di Gunung Rushmore, sebagai salah satu dari 4 presiden besar Amerika. Gambar wajah Abraham Lincoln hingga saat ini diabadikan pada uang pecahan $5.00 Amerika. Di Washington DC dibangun Lincoln Memorial, yaitu gedung megah berisikan patung dirinya yang sedang duduk.
2. Isaac Newton
Isaac Newton lahir pada tanggal 25 Desember 1642 di Woolsthorpe, Inggris. Isaac Newton lahir dalam keadaan prematur dan ayahnya meninggal tiga bulan sebelum ia lahir. Kehidupan keluarganya sangat sulit, sehingga ibunya harus menikah lagi untuk membiayai hidupnya.
Semasa Isaac Newton duduk di bangku sekolah, ia selalu dikucilkan teman-temannya lantaran ia penakut, pemalu, dan kurang pintar. Isaac newton pun bertekad bahwa ia harus berada di atas mereka, dengan begitu orang tidak berani sewenang-wenang terhadapnya.
Akhirnya, Isaac Newton meraih tekadnya itu. Ia menciptakan berbagai penemuan di masa remajanya, seperti kincir angin dan jam dengan metode tetesan air. Isaac Newton pun dijuluki sebagai “Penemu Remaja”. Isaac Newton pun menemukan beberapa hukum, diantaranya Hukum Gravitasi, Kalkulus, Hukum Newton, Optik, Hukum Kelembaman, dll.
Setelah Isaac Newton meninggal, untuk mengenang jasanya, percetakan uang kerajaan membuat mata uang bergambar wajah Isaac Newton.
3. Temple Grandin
Temple Grandin lahir di Boston, pada 29 Agustus 1947. Sebelum didiagnosa mengidap autis pada tahun 1950, Awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusakan otak ketika berusia dua tahun. Temple Grandin baru mulai bisa bicara saat berumur empat tahun.
Temple Grandin merupakan “anak aneh” yang menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak lainnya. Ia dikucilkan remaja lain lantaran ia penyandang autis. Ketika ia berjalan-jalan, orang-orang di jalanan akan mengejeknya “tape recorder” karena ia selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Berdasarkan pengalamannya sebagai penyandang autis, Temple Grandin membantu memberikan konsultasi dalam mengenali gejala autis sejak dini. Ia juga memberikan konsultasi kepada para guru sehingga dapat memberikan penanganan langsung kepada anak autis dengan cara yang lebih tepat. Temple Grandin dianggap sebagai pemimpin filosofis bagi gerakan kesejahteraan binatang dan konsultasi autis.
Kedua gerakan tersebut pada umumnya berhubungan dengan karya-karya tulisnya yang bertemakan kesejahteraan binatang, neurologi, dan filosofi. Tahun 2004, ia meraih penghargaan “proggy” untuk kategori “Visionary” dari People for the Ethical Treatment of Animals. Karya-karya tulisnya mengenai autisme yang ditulisnya dari sudut pandang penyandang autis, sangat membantu para ahli dan dunia kedokteran dalam membantu penanganan autis. Karya-karyanya antara lain, ”Journal of Autism and Developmental Disorders” dan “Emergence: Labelled Autistic.”
Prestasi yang diraih Dr. Temple Grandin tersebut tentulah membuka harapan dan menjadi pencerahan bagi para penyandang autis dan gangguan perkembangan lainnya di seluruh dunia.
4. Madonna
Madonna Louise Veronica Ciccone atau biasa disapa Madonna lahir di Rochester, Michigan pada tanggal 16 Agustus 1958 dan pindah ke Kota New York pada tahun 1977 untuk mengejar kariernya.
Madonna dikenal tidak hanya sebagai seorang penyanyi, namun juga penulis lagu, penari, produser, aktris, penulis buku dan pengusaha. Ia merupakan salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik populer dunia dan dijuluki sebagai “Ratu Pop”. Menurut Guinness World Records, ia merupakan penyanyi wanita tersukses sepanjang masa.
Siapa sangka, aktris sesukses Madonna pernah dikucilkan oleh teman-temannya saat ia remaja. Bahkan, sampai sekarang pun ia masih trauma terhadap masa lalunya itu.
Meskipun demikian, Madonna merupakan penyanyi berpenghasilan tertinggi di seluruh dunia. Setiap tur konser yang digelarnya nyaris selalu sukses, bahkan turnya di tahun 2008, 'Sticky & Sweet Tour', merupakan tur artis solo terlaris sepanjang sejarah. Sepanjang perjalanan kariernya, Madonna telah memenangkan banyak penghargaan. Nama Madonna juga telah diabadikan di Rock and Roll Hall of Fame atas kontribusinya pada dunia musik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar